SULUTLIMA.COM, Poigar – Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) melaksanakan Diseminasi dan Seminar Budaya Seni Tradisi Mawinson di Gedung Gereja GMIBM Alfa Omega Mariri Lama, Kecamatan Poigar, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (09/09/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Dokumentasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah yang telah berlangsung sejak akhir Maret 2026 dengan dukungan Dana Indonesiana, yang kini menjadi Dana Indonesia Raya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan digelar untuk memfasilitasi masyarakat Mariri Lama dalam upaya pemajuan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan lokal, khususnya Seni Tradisi Mawinson yang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Minahasa yang hidup dan berkembang di wilayah Bolaang Mongondow.
Selain menjadi sarana diseminasi hasil pendokumentasian, seminar tersebut menjadi ruang dialog mengenai sejarah, nilai budaya, serta keberlanjutan tradisi Mawinson di tengah perubahan sosial masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, PUKKAT memaparkan hasil dokumentasi Seni Tradisi Mawinson, termasuk sejarah perkembangannya, nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta tantangan pelestariannya.

“Mawinson bukan sekadar bentuk ekspresi seni tradisional, tetapi juga merupakan warisan pengetahuan, nilai kebersamaan, dan identitas budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Denni Pinontoan, Ketua Pukkat.
Tingginya partisipasi masyarakat menjadi salah satu capaian dalam pelaksanaan program. Jemaat GMIBM Alfa Omega Mariri Lama dan warga Mariri Raya terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari proses pendokumentasian hingga pelaksanaan seminar budaya.

Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Seni Tradisi Mawinson masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat dan dipandang sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Fasilitasi yang dilakukan PUKKAT juga mendorong terbentuknya Kelompok Mawinson yang berkomitmen menjaga, melestarikan, dan mengembangkan tradisi tersebut secara berkelanjutan.
Kelompok tersebut diharapkan menjadi wadah pelestarian sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan warisan budaya masyarakat Mariri Raya.

Dukungan terhadap pelestarian Mawinson juga datang dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow, Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, serta Badan Pekerja Sinode GMIBM.
Ketiga unsur tersebut menyatakan dukungan terhadap berbagai upaya yang bertujuan menjaga keberlanjutan tradisi Mawinson sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Dalam proses pendokumentasian, Pdt. Dr. Stenly Kalalo, M.Th., turut berperan dalam mengorganisir dan mendampingi Kelompok Mawinson sejak awal kegiatan pada Maret 2026.Sementara itu, Eder H. Pantow, Sifried Wowor, dan para tetua masyarakat memberikan informasi mengenai sejarah, nilai budaya, serta praktik tradisi Mawinson yang masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Kelompok Mawinson Mariri Raya menjadi mitra utama dalam proses pendokumentasian hingga pelaksanaan kegiatan diseminasi dan seminar budaya.

Denni Pinontoan berharap, hasil pendokumentasian, terbentuknya Kelompok Mawinson, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan dapat menjadi fondasi bagi pelestarian dan pengembangan Seni Tradisi Mawinson secara berkelanjutan.
“Kerja sama antara masyarakat, pemerintah, lembaga keagamaan, dan komunitas budaya diharapkan dapat menjaga keberadaan Mawinson sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia dan meneruskannya kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, Anton Hariyanto, S.Kom., M.M.S.I., hadir bersama Wakil Bupati Bolaang Mongondow, Dony Lumenta, S.Tr.T., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bolaang Mongondow Supriadi Dilapanga, Sekretaris Badan Pekerja Sinode GMIBM Pdt. Denni Lang, M.Th., Camat Poigar Daendels Somboadile, S.E., M.Si., serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Turut hadir Sangadi Mariri Satu Jenti Rumuat bersama para Sangadi se-Mariri Raya, Ketua BPMJ GMIBM Alfa Omega Mariri Lama Pdt. Dr. Stenly Kalalo, M.Th., narasumber sejarah dan tradisi Mawinson Eder H. Pantow dan Sifried Wowor, para tetua masyarakat, Kelompok Mawinson Mariri Raya, serta jemaat dan masyarakat setempat.
(Hendro Arief)


