SULUTLIMA.COM, Aertembaga — Sejarah tidak cukup hanya dikenang. Bagi Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Julitje Maringka, sejarah Negeri Aertembaga harus menjadi pijakan untuk memperkuat persatuan para keturunan sekaligus mendorong kemajuan wilayah tersebut.
Julitje Maringka, yang merupakan salah satu keturunan Willem Maringka, Hukum Tua pada periode awal berdirinya Negeri Aertembaga, menyampaikan pandangannya dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Negeri Aertembaga, Senin (14/9/2026).
Rangkaian kegiatan yang berlangsung di Markas Satuan Patroli (Satrol) Kodaeral VIII tersebut turut diisi seminar budaya dengan tema “MenjagaAmanat Pinawetengan: Dari Nondolan ni Endo, Tana Rundang hingga Mataingkere” dan subtema “Merekonstruksi Sejarah, Identitas dan Eksistensi Kebudayaan Minahasa di Wanua Aertembaga.”
Seminar menghadirkan Sejarawan Bode Grey Talumewo, Penulis dan Peneliti Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat) sekaligus Direktur Komunitas Penulis Mapatik Rikson Karundeng, serta Penulis dan Akademisi yang juga Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya LP3M IAKN Manado, Denni Pinontoan.
Julitje mengapresiasi panitia dan Komandan Satrol Kodaeral VIII yang telah menghadirkan seminar tersebut. Menurutnya, kegiatan itu menjadi ruang penting untuk mempertemukan para keturunan yang memiliki keterikatan sejarah dengan Negeri Aertembaga.
“Ini satu hal yang sungguh luar biasa karena selama ini tidak pernah ada kegiatan pertemuan yang seperti ini,” ujar Julitje.
Ia menilai pertemuan tersebut dapat menjadi mediasi bagi para keturunan untuk memperkuat hubungan, kekompakan dan persatuan dalam melihat masa depan Aertembaga.
“Jadi, luar biasa dan saya berharap dengan adanya mediasi ini ke depan Negeri Aertembaga yang saat ini sudah menjadi Kelurahan Aertembaga, ke depannya semakin keturunannya semakin eksis, menjaga kekompakan, persatuan, kesatuan, guna menunjang Kelurahan Aertembaga yang maju dan juga buat Kota Bitung, kalau perlu ke seluruh Republik Indonesia.”
Julitje juga menekankan pentingnya memperkenalkan potensi Aertembaga kepada khalayak yang lebih luas. Ia melihat sektor perikanan sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang memberikan kontribusi bagi Kota Bitung.
“Agar negara bahkan dunia ini tahu bahwa Bitung itu perlu menjadi titik yang sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah. Karena salah satu pusat perekonomian Kota Bitung ada di Kelurahan Aertembaga, yaitu perikanan yang begitu banyak berkontribusi buat Pemerintahan Kota Bitung.”
Menurutnya, sejarah dan kebudayaan Aertembaga harus berjalan beriringan dengan pembangunan. Warisan leluhur tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari identitas yang memperkuat masyarakat dalam menghadapi masa depan.
Karena itu, keberadaan berbagai garis keturunan dan keluarga besar Aertembaga perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan sejarah yang saling melengkapi. Upaya merekonstruksi sejarah pun diharapkan dapat dilakukan melalui kontribusi berbagai pihak yang memiliki pengetahuan, cerita maupun catatan mengenai perjalanan Aertembaga.
Peringatan HUT Negeri Aertembaga diawali dengan doa dan prosesi adat pada pagi hari, sebelum kegiatan dibuka oleh Wali Kota Bitung Hengky Honandar. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu.
Seminar budaya menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian tersebut, dengan mempertemukan sejarah, kebudayaan dan identitas Aertembaga dalam satu ruang dialog.
(Hendro Arief)


